Perjuangan Seorang Sahabat

Awal persahabatan

“Kamu lagi belajar berenang, Marie?” tanyanya.
“Iya, dari kecil ga pernah belajar renang”, kataku kepadanya. Ada teman baru di kantorku. Sebut saja dia Mawar 🙂

Kami jadi dekat karena sering makan siang bersama.

“Kalo aku dulu les berenang waktu kecil, Marie. Mamaku dulu les-in renang, gitar, piano”
Saat Mawar bilang kalau waktu kecil dia les piano, saya menebak “Wah berarti kamu anak orang kaya dong ya”. Entah mengapa, saya punya persepsi bahwa anak yang les piano itu tentunya anak orang kaya. Saya beranggapan kalau les piano ya selayaknya harus punya piano di rumah untuk berlatih, dan piano tentunya tidak murah. Saya bertanya lebih jauh lagi tentang masa kecilnya. 

Mawar tersenyum dan mulai bercerita. 

Papanya dulu adalah pejabat pelabuhan di Tanjung Priok.
Di masa kecilnya dia hidup di rumah yang besar.
Mobil mewah papanya banyak.
Mamanya punya banyak perhiasan.
Peralatan makannya saja koleksi dari kristal.
Dia empat bersaudara, dan masing masing ada satu pengasuh yang menangani.
Ditambah lagi ada pula pembantu, tukang kebun, dan supir. 

Anak korban cerai

Wah, mengapa sekarang hidupnya jadi biasa saja?

Mawar bercerita tentang bagaimana akhirnya orangtuanya cerai.
Papanya tukang selingkuh.
Sudah banyak harta dan punya tahta, mau juga banyak wanita.
Papanya abusive ke mamanya.
Perlakuannya kasar secara fisik dan mental.

Berpisahlah kedua orang tua Mawar.

Mawar berempat bersaudara akhirnya tinggal dengan mama.
Hidup mereka berubah.
Mamanya yang dulu ibu ibu pejabat yang bergelimang uang,
Sekarang harus membanting tulang.
Kasih makan empat anak dirasa berat.
Tidak ada lagi pengasuh pengasuh yang bisa dia bayar.
Tidak ada lagi supir yang mengantarnya kemana mana. 

Sakitnya Mama

Walaupun diiringi kesulitan ekonomi, Mawar akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan universitas, dan akhirnya bekerja.
Namun kemalangan kembali menghinggapinya.
Mamanya divonis kanker serviks.
Mawar yang sedang kuliah sambil lanjut S2, juga harus merawat mamanya.
Praktis tidak punya waktu untuk hal lain.
Tabungan terkuras untuk pengobatan mama.

Keadaan yang merana ini membuat Mawar memendam dendam terhadap papanya. Menurutnya, penyakit yang diderita mamanya adalah ulah dari papanya yang sering main gila dengan banyak perempuan.

Tiap hari Mawar melihat kondisi mamanya makin menurun.
Badan mama kurus tinggal tulang berbalut kulit.
Hari ini ke rumah sakit untuk di kemoterapi.
Besok besoknya untuk di radiasi.
Besok besoknya lagi untuk dioperasi.
Lelah sekali menghadapi semua ini.
Kapan selesainya semua rangkaian pengobatan ini?
Pernah juga sampai akhirnya usus mama kena radiasi,
Dan harus dipotong.
Juga harus pasang kantong kolostomi.
Mamanya pun merasakan sakit nyeri yang konstan.
Semua cara sudah dipakai dari obat anti nyeri, codeine, suntik morfin, durogesic patch.
Tidak tega rasanya melihat mama setiap hari seperti ini.

Lebih tidak tega lagi saat merenung dan memikirkan bahwa mamanya tidak akan pernah merasakan badannya sehat dan bugar lagi.
Kasihan mama… 

Setelah lima tahun berjuang, mamanya akhirnya menutup usia.
Cancer sucks, big time.

Terpukul, lelah, namun agak sedikit lega.
Itu perasaan Mawar.

Kejatuhan Papa

Di sisi lain, papanya menikah kembali.
Dengan seorang janda kembang asal Puncak.
Sejak menikah untuk kedua kalinya, kehidupan ekonomi papanya menjadi tidak sebagus dulu. Hartanya habis karena gaya hidup yang foya foya.
Dia juga menderita diabetes.
Penyakit ini menggerogotinya.
Sampai akhirnya meninggal karena komplikasi.
Papa punya dua anak lagi dari perkawinan keduanya ini.
Tapi adik adik tiri ini tidak mau Mawar akui.
Dia masih sakit hari terhadap papanya.
Janda kembang papa juga sering minta sokongan finansial dari Mawar.
Untuk menghidupi adik adik tirinya.
Permintaan ini kadang Mawar turuti,
Namun sering juga dia tolak karena Mawar merasa tidak wajib untuk ikut andil terhadap kesejahteraan mereka.

Disisi lain juga karena Mawar harus mulai menata ekonominya lagi.
Bagaimana bisa merenda masa depan kalau terus terusan dirongrong seperti ini?

Sahabat segala situasi

Pengalaman Mawar dalam merawat mamanya yang sakit membuat saya lebih relate ke dia saat ayah saya didiagnosa kanker paru paru.
Saat saya mengabari Mawar soal ayah, dia memberi banyak saran tentang langkah langkah apa yang sebaiknya saya ambil.
Dia juga memberi kisi kisi tentang hal hal apa yang akan saya hadapi supaya saya lebih siap mental.
Tapi itu nanti lain cerita. That’s another story.

Mawar sering berkelakar tentang kondisinya yang sekarang dia sebut “menjadi yatim piatu”. Walaupun saya selalu timpali dengan kata kata “kamu udah dewasa, ngga bisa disebut yatim piatu lagi”. Candaan kelam ini sering dia lontarkan saat dia mengeluhkan betapa kesepiannya dia karena kakak adiknya semua sudah menikah dan berkeluarga. Sedangkan dia tinggal sendirian di rumah peninggalan mamanya. 

Diabetes Melitus (DM) dan cuci darah (hemodialysis)

Beberapa tahun kemudian ternyata Mawar didiagnosa diabetes melitus. 
Kemalangan apa lagi ini?
Penyakit hadiah dari bapaknya, dia ungkap secara sinis.

Ya, peran genetik disini memang tidak main main. 
Tidak cuma hal hal baik yang kita warisi dari ayah ibu kita, hal hal yang kurang baik pun juga menyertai.

Penyakit DM ini akhirnya menyerang ginjalnya. 
Sudah turunlah fungsi ginjalnya.
Mawar akhirnya harus cuci darah dua kali seminggu.

Badannya sekarang dipenuhi bekas sayatan operasi Cimino, prosedur yang harus dia jalani untuk treatment cuci darah (hemodialysis atau sering disingkat HD).

Mawar dalam pemikirannya sering protes ke Tuhan. 
Tidak sayangkah Tuhan padaku?
Hidupku sudah penuh cobaan, sekarang Engkau tambahkan lagi dengan cobaan kesehatan?
Tidak bisakah ginjalku ini Engkau tukar dengan ginjal baru yang berfungsi baik.
Ingin rasanya dilahirkan kembali sebagai bayi baru. 
Begitulah kata kata yang sering ia lontarkan. 

Seiring dengan kondisi kesehatan fisiknya yang naik turun, kondisi mentalnya juga ikutan naik turun. 
Depresi
Cemas
Kesepian
Malas rasanya melanjutkan hidup.

Kehidupannya juga jadi sering berkutat di seputar rumah sakit. 
Ada kalanya dia jatuh dari sepeda motor saat dibonceng oleh abang Grab, menyebabkan tangannya patah. 
Sudah satu tangan penuh dengan bekas prosedur operasi Cimino, tangan satunya lagi harus dioperasi patah tulang.
Beberapa kali dia juga harus di-opname di ICU karena asam lambungnya kambuh, dan menyebabkan dia jadi sesak napas. 

Di kala lain, ya tentunya dia harus visit rumah sakit untuk cuci darah dua kali seminggu, bahkan terkadang harus tiga kali seminggu jika dokter menjadwalkan ekstra.

Setiap Mawar mengabari bahwa dirinya sedang opname di rumah sakit, saya selalu menimpalinya dengan “Kenapa lagi kali ini?” 
Sering juga kita tertawa miris dengan “langganan”nya dia yang satu ini.

Ingin rasanya ajak Mawar plesiran keluar kota.
Untuk sekedar jalan jalan menghilangkan suntuknya pikiran.
Namun jadwal cuci darahnya yang dua kali seminggu itu ternyata cukup menjadi faktor yang memberatkan.

Kondisinya harus prima jika ingin keluar kota. 
Hal yang ditakutkan tentunya bagaimana jika tiba tiba kondisinya menurun saat bepergian.
Jangankan dalam bepergian, di rumah saja sering tiba-tiba gula darahnya menurun dan bikin dia hampir pingsan. 

Saya lihat sendiri di meja tidurnya betapa banyaknya obat yang harus dia konsumsi.
Alcohol swab, dan pena suntik insulin juga harus selalu siap sedia.
Serta cemilan cemilan manis jika tiba tiba gula darahnya turun.

Kita sering berdiskusi tentang bagaimana orang dengan kondisinya tidak seharusnya tinggal sendirian. 
Selayaknya, harus ada orang yang bisa ikut mengawasi keadaannya. 

Namun apa daya, sudah banyak pembantu yang dia pekerjakan akhirnya mengundurkan diri karena tidak betah tinggal sendirian di rumah saat Mawar pergi bekerja. 
“Takut” kata mereka. 
Rumah yang Mawar tinggali adalah peninggalan mamanya
Rumah hasil pembagian harta gono gini ini cukup luas.
Sekarang setelah mamanya meninggal dan ketiga saudara Mawar sudah berkeluarga, rumah itu dirasa terlalu besar untuk dia tinggali sendirian.

Dibalik kondisi kesehatannya yang naik turun seperti roller coaster
Mawar adalah teman yang menyenangkan. 
Kepribadiannya supel dan penuh dengan candaan. 
Dia adalah salah satu teman yang bikin saya terbahak bahak dengan lontaran kata katanya yang penuh dark humor dan sarkasme. 

Dia mudah bergaul dengan siapa saja. 
Perawat perawat di ruang cuci darah sudah akrab dengannya. 
Di kantor, klien yang galak dan disegani pun bisa dia ajak bercanda. 

Kita tidak akan pernah menyangka bahwa dibelakang itu dia berjuang dalam hal kesehatannya. Teman teman kantor saja tidak ada yang tau kalau dia harus cuci darah setiap waktu. 

Pandemi

Saat pandemi terjadi, tentunya Mawar menjadi salah satu yang punya high risk karena kondisi diabetes dan ginjalnya.
Dia memberi kabar tentang saudaranya yang dokter anak yang harus dirawat di ICU karena Covid, dan ginjalnya terserang dan harus cuci darah juga.
Mawar semakin cemas. 
Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan pekerjaan.
Tekanan hidupnya semakin berat. 
Terhimpit keadaan ekonomi (lagi).
Terjerat masalah kesehatan (selalu).
“Kapan aku bisa bahagia ya Marie?”
Saya tidak bisa menjawabnya.
Kalau sampai rumah sakitnya penuh dan tidak bisa terima dia cuci darah bagaimana?
Kalau sampai harus keluar uang lebih banyak untuk cuci darah di tempat lain bagaimana?
Kalau uang nya habis sebelum dia dapat pekerjaan lagi bagaimana?
Nyawanya sedikit banyak terkait dengan uang.

Bertekad untuk ekstra hati hati dan tetap sehat, dia sering berdiam di rumah. 
Walau sering kesepian, dia tetap harus menjalani hari harinya.
Sering saya kagum dengan semangatnya yg kadang muncul.
Berkaca darinya membuat saya lebih bersyukur dengan kesehatan saya.

“Tidak ada pesta yang tak usai” kata ayah saya suatu hari.
“Badai pasti berlalu” kata kata ini juga sering saya dengar.
Saat ini yang bisa dilakukan hanyalah bertahan.
Dan mencoba lalui hari satu demi satu.

Note: Mawar termasuk salah satu pembaca dan setuju kisahnya diangkat dengan nama samaran 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: