Silsilah Keluarga

Kalau kita ditanya siapa nama ayah dan ibu kita, tentunya kebanyakan dari kita bisa menjawabnya. Tetapi kalau ditanya lebih jauh lagi, siapa nama kakek nenek kita, dari kedua belah pihak orangtua kita, beberapa dari kita mungkin tidak bisa menjawabnya. Padahal, runutan ini belum terlalu jauh.

Ayah saya keturunan Tionghoa, Ibu saya asli Bali. Untuk dari pihak ibu, saya memanggil kakek nenek dengan sebutan Tuayah (kakek) dan Tunini (nenek). Untuk dari pihak ayah, saya tidak pernah mempunyai panggilan untuk mereka, karena mereka sudah tiada sebelum saya bisa mengenal mereka, namun kemungkinan besar memanggilnya dengan sebutan Engkong dan Emak.

Beginilah family tree saya, walaupun bagan ini kurang penting untuk orang lain, namun ini cukup bermakna buat saya. Sedih juga karena tidak bisa mengisi dengan lebih lengkap ke atas atasnya.

Nama ayah yang saya pasang di family tree adalah nama lahirnya, Lauw Giok Siang. Walaupun akhirnya dia mengganti namanya dengan nama Indonesia.

Tentunya silsilah keluarga saya tidak bisa ditelusuri jauh karena keterbatasan informasi. Tidak seperti misalnya silsilah keluarga kerajaan Inggris yang mungkin bisa mereka runut sampai satu millenia ke belakang.

Di satu sisi, tentunya saya termasuk orang yang beruntung karena bisa tumbuh dan dirawat oleh keluarga kandung. Mengapa saya menyatakan hal itu?
Pemikiran ini timbul karena beberapa hari setelah mendapat hasil DNA ancestry lewat 23andMe (yang belum tau soal 23andMe bisa cek di blog ku yang ini), saya mendapat pesan dari seorang anak muda, perempuan, yang secara DNA punya koneksi dengan saya. Dia adalah seorang anak yang lahir sekitar tahun 2004 yang berasal dari Inner Mongolia yang diadopsi oleh sebuah keluarga di Amerika.

Sepupu Jauuuuhhh

Nama dia Salome. Dia sedang mencari keluarga kandungnya.
Di web 23andMe, kita bisa mengirim pesan ke orang yang tidak kita kenal yang punya relasi genetik dengan kita. Dia juga mengambil test DNA di 23andMe, dan menemukan bahwa saya punya kesamaan genetik dengannya. Hasil DNA menunjukkan bahwa kami adalah fifth cousin. Istilah simple bahasa Indonesianya, saya adalah sepupu dari sepupu dari sepupu dari sepupunya dia. Eh itu kurang simple ya?
Intinya kami punya nenek moyang yang sama.
Fifth Cousin ini relasinya terlalu jauh. Di perjalanan family tree kami keatas, 5 tingkat diatas ayah ibu nenek kakek kami, adalah orang yang sama.
Hal ini tentunya sudah mustahil untuk dirunut. Saya tidak bisa membantu Salome untuk mencari keluarga kandungnya. Lain halnya kalau misalnya kami adalah first cousin (sepupu-an), atau second cousin (sepupunya sepupu), mungkin masih bisa ditelusuri.


Tentunya Salome merasa ada bagian yang hilang dari hidupnya. Dia tidak punya informasi apapun soal kerabat kandungnya. Dia ingin mengetahui dari mana eksistensi dia berasal.
Hal inilah yang membuat saya bersyukur saya masih tau ayah ibu kandung saya, genetik apa yang saya warisi dari mereka. Saya bisa melihat ibu kandung, berkaca padanya, dan bilang dalam hati “Oh, mungkin suatu hari rambut saya akan memutih dengan cara yang sama seperti memutihnya rambut ibu”. Dan adik laki laki saya mungkin bisa berkaca ke ayah kami, dan paman-paman kami, dan tidak perlu khawatir misalnya soal kebotakan, karena kami tidak melihat hal itu di genetik keluarga ayah. Atau mungkin kalau berpikir dark nya berkaca dengan sedikit worry apakah suatu hari saya akan meninggal karena kanker seperti ayah. Atau hal hal ringan seperti misalnya jika wajah saya dimasukkan ke aplikasi Faceapp dan diubah menjadi laki laki, yang muncul adalah wajah yang 95 persen mirip adik laki laki saya. Saya tidak pernah menyadari betapa kami memiliki kemiripan.
Ya, misalnya berkaca dalam hal hal kecil seperti itu.
Ibu saya pun sering menceritakan betapa sifat humor adik laki laki saya sama seperti sifat humor yang dimiliki oleh saudara lelakinya (paman saya) yang suka guyon, dan sering membuat orang tertawa.

Dengan membuat family tree diatas, ada satu aspek yang juga membuat saya berpikir lebih jauh. Misalnya tentang budaya penghormatan leluhur dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Saya rasa menghormati leluhur dan mengingat mereka adalah hal yang cukup bermakna. Bukan karena saya merasa leluhur saya punya kekuatan spiritual yang kuat, namun karena ada genetik genetik mereka dalam diri saya. Ada sepercik darah mereka mengalir dalam nadi saya. Ada sepotong ciri khas nenek yang saya warisi. Ada ayah saya dalam diri saya.

Ya, hidup adalah pada intinya memberikan legacy dan kontribusi yang bermakna. Jika bukan untuk masyarakat luas, setidaknya untuk keluarga kita sendiri. Jangan pernah menodai nama baik keluarga.

Dalam agama pun, kita diajarkan untuk selalu mendoakan ayah ibu kita, dan juga mendoakan kakek nenek atau kerabat yang sudah meninggalkan kita. Jika ada yang pernah menonton film Pixar yang berjudul Coco, pasti mengerti betapa sedihnya jika anak cucu kita suatu saat melupakan kita.

Jika belum bisa memberikan kontribusi banyak terhadap masyarakat, setidaknya bisa mempertahankan dan mengusung nama baik keluarga. Saya juga pernah membaca misalnya betapa kerabat kerabat Hitler, keponakan-keponakannya bersumpah untuk tidak mempunyai keturunan, demi mematikan garis keluarga nama Hitler. Serta salah satu anak laki laki penipu skema Ponzi, Bernard Madoff, mengakhiri nyawanya karena tidak kuat menanggung malu yang disebabkan oleh ayahnya. Bahkan menantu Bernard Madoff sampai akhirnya mengganti nama keluarga anak anaknya sendiri yang notabene adalah cucu cucu Bernard Madoff, dari nama keluarga Madoff menjadi Morgan.

Semoga kita semua bisa memberikan legacy dan kontribusi yang positif ke keluarga dan ke anak cucu kita nanti. Salah satu cara termudah diantaranya adalah menjadi menjadi orang baik, tidak menipu orang, tidak korup, dan tidak merugikan orang lain. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: